"Habis gelap terbitlah terang"
Begitu judul buku yang berisi kumpulan surat-surat RA Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang hidup 50 tahun sebelum berdirinya Republik Indonesia.

Kini Indonesia telah berusia 80 tahun, dan tagar Indonesia Gelap berseliweran dimana-mana. Setelah sempat terang beberapa hari, rupanya gelap kembali menghampiri. 

Semuanya berawal dari sebuah hubungan.

Singkat cerita, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, rakyat Indonesia telah mendapati 2 kali pergantian presiden. Presiden pertama, Jokowi Widodo, memimpin selama 2 periode alias 10 tahun. Di ujung masa jabatan, ia mewariskan sebuah Ibu kota baru bernama Nusantara yang berlokasi di Kalimantan Timur. Ibu Kota Baru ini menimbulkan polemik dan memantik curiosity karena pembangunannya seolah direncanakan tanpa pertimbangan yang masak. Regulasi tiba-tiba diteken dan dengan mengucap bim-salabim pembangunan dimulai. Rakyat yang sebagian sedang tidur nyenyak dan sebagian lagi sibuk memikirkan besok makan apa, dibuat kaget sampai mual bahkan muntah-muntah. 

Presiden kedua baru saja ditetapkan di pembuka tahun 2024 lalu. Kemenangan Prabowo disambut opini yang beragam karena dianggap banyak campur tangan Jokowi dalam kemenangannya. 

Saat presiden baru dilantik, hubungan rakyat-presiden seketika tercipta tanpa basa basi, tanpa bisa ditolak, karena adanya sebuah negara mensyaratkan 3 unsur yaitu rakyat, wilayah dan pemerintahan. Bagi Indonesia yang menganut sistem presidensil, Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. 


Dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah kunci. 

Kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita dilahirkan. Kalau memang ada campur tangan ilahi perihal urusan takdir dan kelahiran, seharusnya kita akan lebih bisa menerima kelahiran itu, dengan segala konsekuensi yang mengekorinya, termasuk lahir sebagai warna negara Indonesia. 

Lingkungan demokrasi memungkinkan rakyat memilih pemimpinnya sendiri. Seorang calon presiden atau kepala daerah yang sudah terlanjur kehabisan ide bisa saja mengusulkan Peruri mencetak lebih banyak uang untuk membayar hutang negara. Mengapa gagasan seperti ini bisa mengapung ke permukaan sungguh merupakan sebuah tanda tanya besar. 

Seperti halnya bercinta, pemilu adalah urusan orang dewasa. Hasrat terpendam hanya bisa dilampiaskan di sebuah tempat khusus bernama bilik suara. Sikap penuh pertimbangan tidaklah berguna ketika  hendak mencoblos di bilik suara. Pasangan calon (Paslon) presiden dan wakil presiden dipilih bukan karena rekam jejak, namun lebih karena prasangka buruk terhadap paslon lain yang pernah terbukti benar adanya.

Berbahagialah para orang dewasa yang punya kesempatan untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Bebas memilih tanpa tekanan, tapi sungguh disayangkan tidak bisa ikut mengatur hasilnya. Mungkin bukan mengatur, tapi lebih kepada tidak bisa menentukan hasilnya. Kita serahkan urusan itu kepada lembaga yang berwenang untuk menghitung surat suara dan menetapkan siapa diantara calon presiden itu, yang kelak keluar sebagai pemenang pemilu. Yang kita tahu dari pelajaran kewarganegaraan, pemilu itu diselenggarakan dengan Prinsip Jurdil - yang jujur dilenyapkan?

Menurut Keyakinan Saya

Dalam usaha untuk menyusun sebuah program kerja yang masuk akal, setidaknya gunakanlah data-data yang telah susah payah disusun pegawai BPS dan dipublikasikan di laman webiste Badan Pusat Statistik. Data ini tentunya disusun berdasarkan kaidah-kaidah statistik yang baik.

Tapi rasa-rasanya program dan janji pemilu itu seolah datang dari mimpi. Lewat bisikan-bisikan gaib. Setidaknya itulah dugaan kita. Tapi sayangnya kita juga tidak bisa meluruskan dugaan-dugaan ini. Karena sepertinya biro komunikasi dan seluruh perangkat eksekutif di lingkaran para elit yang terhormat, tidak mau repot-repot untuk sekadar mencoba mengklarifikasi kesimpang siuran yang beredar. 

Dan pada akhirnya, terbitlah tagar Indonesia Gelap.

Gelap bukan karena ketiadaan cahaya. Matahari masih berkenan menyinari tanah dan laut Indonesia. 

Kalau dicermati, seruan Indonesia Gelap barangkali hanya sebuah kegagalan dalam menyikapi keadaan, sebagaimana dituturkan Yang Mulia Menteri Urusan Persuasi dan Hilirasi, 
"bukan Indonesia yang gelap, kau yang gelap".

Sebagai penutup, mari kita akui, kita memang terlalu pintar untuk mau saling bekerja sama, mengesampingkan ego, kepentingan pribadi maupun kelompok, demi masa depan bersama yang lebih baik. 

Bagi kita, hidup itu hanya untuk hari ini, atau 5 atau 10 tahun ke depan saja (hidup 2 periode), padahal menurut Martin Heideger dalam bukunya, Sein und Zeit 
"Manusia adalah makhluk yang memproyeksikan dirinya ke masa depan". 
Kalau kita lebih senang menghabiskan waktu di hari ini, esok pun akan sama seperti hari ini, tiada berbeda dengan hari-hari biasanya, dan begitu seterusnya sampai asteroid menghantam bumi. Sampai jumpa di tahun 2045.

Post a Comment