Dari Penjara Ke Penjara - Tan Malaka | Beli & Baca eBook di Bacabuku.com

 Tan Malaka menutup autobiografinya yang berjudul "Dari Penjara ke Penjara" dengan mengesankan:

"Demikianlah akhirnya pada permulaan bulan Agustus saya menuju ke arah Republik Indonesia bukan lagi dengan pena di atas kertas, di luar negeri, seperti lebih daripada dua puluh tahun lampau, melainkan dengan kedua kaku di atas tanah Indonesia sendiri"


Sedari awal, Tan Malaka selalu setia berjuang di pihak kiri. Ide-ide Marxis menjadi bahan bakar di setiap gerakan dan gagasan-gagasannya dalam memperjuangkan kehidupan kaum proletar - rakyat jelata Hindia Belanda saat itu yang dalam pandangangannya berada dalam kondisi terhisap dan tertindas baik oleh penjajahan Belanda dan Jepang serta perangkat-perangkatnya.


Kisah perjuanga Tan Malaka bermula setelah ia menamatkan sekolah guru di Haarlem Belanda. Saat itu Tan Malaka langsung mendapat tugas mengajar anak buruh di perkebunan Deli Sumatera Utara. Status sebagai guru tak menghalanginya untuk bergaul dengan para buruh dan itu membuatnya bersimpati atas penderitaan kaum buruh disana yang hidup serba pas-pasan. Selepas dari Deli, Tan Malaka melanjutkan perjalanan ke Semarang dan sempat mendirikan Sekolah Rakyat. Gerak-geriknya mulai dipantau Belanda dan itu membuatnya harus membuat keputusan sulit, dengan bersedia dibuang ke luar negeri.  Sementara itu, tak sedikit teman-teman seperjuangan yang dibuang ke daerah pedalaman Papua bernama Boven Digul.


Luntang-lantung menjadi pelarian politik dan menghabiskan waktu selama 20 tahun di Russia, China, Filipina, Singapura, Tan Malaka kembali ke Indonesia sebagai Ilyas Hussein, dan mendapat pekerjaan di Bayah Banten sebagai pengurus Romusha. Lagi-lagi, pekerjaannya bersinggungan langsung dengan kondisi rakyat yang serba melarat di bawah penjajahan Jepang pada saat itu.


Tan Malaka tidak segan mengkritik Bung Besar Ir. Soekarno yang menurutnya, bersikap terlalu lunak terhadap Jepang. Ide tentang koperasi yang digagas Bung Hatta pun tak luput dari kritiknya karena tidak bisa berjalan semestinya apabila kekuasaan politik masih dipegang pihak Jepang dan antek-anteknya. 


Indonesia pada akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun mempertahankan kemerdekaan ternyata tidak lebih mudah dibanding meraihnya. Selepas kekalahan Jepang di Perang Dunia II, Belanda dan sekutu mencoba merebut kemerdekaan Indonesia dengan melancarkan dua kali operasi militer yang dikenal dengan nama Agresi Militer Belanda I dan II. 


Kelompok pemerintah yang dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta memilih jalan diplomasi dengan bersedia berunding dengan Belanda untuk memastikan kemerdekaan 100% dan mengakhiri operasi militer Belanda di Indonesia. Jalan diplomasi ini menghasilkan rangkaian Perjanjian berupa Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renvile yang justru membagi-bagi wilayah Indonesia. 


Gejolak ketidakpuasan timbul dimana-mana menentang hasil Perjanjian ini. Kelompok oposisi melakukan pemberontakan dan hal ini dianggap alarm bahaya oleh pemerintah karena dapat mengganggu stabilitas di Republik yang masih baru berdiri. Saat itu, selain menghadapi Belanda, pemerintah juga harus menghadapi perlawanan dari golongan yang tidak setuju dengan jalan diplomasi.

 

Lewat Konferensi Meja Bundar yang diadakan di De Hague pada tahun 1949, Indonesia akhirnya menerima pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda. Seluruh perangkat militer Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, mengakhiri penjajahan selama 350 tahun dan Agresi Militer selama 4 tahun.  


Demikianlah, sejarah akhirnya ditulis oleh pihak yang menang. Sebagai golongan yang tersingkir, Tan Malaka tak punya kuasa mengendalikan arah sejarah. Namun gagasan dan sumbangsihnya dalam pergerakan menuju Republik Indonesia perlu diketahui untuk dikenang.


Post a Comment