https://gpu.id/data-gpu/images/img-book/95252/626202002.jpg

O dan Entang Kosasih adalah sepasang monyet yang sedang dimabuk cinta. Tiada hari mereka lewatkan tanpa bertemu satu sama lain. Awal bencana dan penderitaan yang akan dialami O bermula ketika Entang Kosasih mendeklarasikan keinginannya untuk menjadi manusia. 

Dalam buku ini, kita diajak menelusuri kisah karakter para hewan mulai dari monyet, burung kakak tua, anjing sampai tikus. Mereka berpikir, berbicara dan merasakan selayaknya manusia. Tak hanya itu, mereka juga mengalami cinta dan kepedihan. Dua hal itu menjadi tema utama yang tak disangka-sangka, walaupun tokoh utama cerita adalah seekor monyet. 

Jatuh cinta memang manis. Sekilas, tidak perlu alasan bahkan bagi seekor monyet untuk bisa jatuh cinta. Tapi O merasa bahwa kekuatan karakter yang dimiliki Entang Kosasih yang membuatnya jatuh cinta. O sadar kekasihnya itu sangat keras kepala, terlebih ketika ia melontarkan tekad gila untuk menjadi manusia. Seringkali mereka berselisih paham karena yang satu keras kepala sementara yang lain mencoba rasional, namun pada akhirnya, cinta kembali menyatukan keduanya dan menyingkirkan seluruh perbedaan. 

Di bab-bab awal kita diajak mengalami keseharian O sebagai monyet topeng monyet dengan pawang manusia bernama Betalumur. Walaupun sang pawang punya kesempatan lebih baik untuk mengubah nasib ketimbang si monyet, si pawang justru tidak melakukannya dan lebih memilih untuk melupakan kemelaratannya dengan cara mabuk sambil menyanyikan lagu-lagu cengeng. Sementara itu O, dengan kesungguhan hati melakukan perannya sebagai topeng monyet, berharap dengan berpura-pura menjadi manusia lewat pertunjukan topeng monyet ini, ia suatu saat nanti bisa berubah menjadi manusia dan bisa bertemu kembali dengan kekasihnya Entang Kosasih, yang diyakininya telah berhasil menjadi manusia.

Sampai dibagian itu, silih berganti kita diajak mengikuti konflik yang dialami karakter lain yaitu seorang polisi bernama Sobar dan seekor anjing bernama Kirik. Lewat jalinan cerita yang sederhana, bertempat di kampung Rawa Buaya di pinggiran Jakarta, masing-masing karakter saling beririsan takdir. Sobar akhirnya harus menuntaskan dendam kematian rekan sejawatnya pada Entang Kosasih, sementara Kirik menjadi teman baik O.

Ada istilah "jatuh cinta pada pandangan pertama"
Ada yang bilang "cinta karena terbiasa"

Dalam kisah O, cinta menemukan tempatnya tidak lewat pandangan pertama, tidak juga karena terbiasa. Dua jiwa, baik manusia maupun hewan mengalami cinta karena getaran yang dirasakan ketika pertama kali bertemu, dan pertemuan selanjutnya seolah mengonfirmasi pertanda di awal bahwa itu memang cinta. 

Post a Comment